Cipta Karya
Jalan Pemuda No.55 / 65 Mojosari - Mojokerto 0321 - 592231, 0321- 592231
http://ciptakarya.mojokertokab.go.id
Selamat Datang di :: http://ciptakarya.mojokertokab.go.id :: Web Resmi ciptakarya Pemerintah Kabupaten Mojokerto Jum'at, 10 September 2010


Ir. ZAENAL ABIDIN, MT.MM
    Profil
    Info
    Artikel
    Agenda
    Buku Tamu
    Download
     Dinas Pekerjaan Umum Republik Indonesia
     Dinas Pekerjaan Umum Kota Surabaya
     Pemerintah Daerah Kabupaten Mojokerto
    
Pengunjung : 2194
User Online : 1
IP Computer : 38.107.191.84
Best viewest with Mozilla Firefox 2.0.0.5 or later on 1024 x 768
Username :
Password :

Kata yang dicari:

kategori :
Artikel

Tren Asitektur 2010
Admin PUCKTR, 11/2/2010

Tren Arsitektur 2010
IDEA
Rumah dengan material lokal dan daur ulang sangat mendukung  kesadaran pada green living. Gaya arsitektur yang mengusung unsur ramah lingkungan menjadi isu  global saat ini
Artikel Terkait:

* GramediaShop: Patio Dan Courtyard * GramediaShop: Belajar Mudah Dan Praktis Archicad Buku 1

Rabu, 10/2/2010 |  22:42 WIB

oleh Yu Sing

Ada yang aneh dengan tren dalam arsitektur.  Tren sebenarnya memiliki sifat sementara, singkat, sesaat, sebentar saja; sedangkan arsitektur atau  bangunan akan berdiri dalam jangka waktu yang lama. Jadi, tidak tepat kalau arsitektur dikategorikan  ke dalam tren.

Walaupun begitu, arsitektur memang belum lepas dari ikatan tren. Entah  bagaimana mulainya arsitektur bisa bersanding dengan tren. Barangkali karena belum ada penelitian  mendalam. Di sini, ada peran pengembang properti bersama media, yang melahirkan istilah tren  arsitektur.

Dengan adanya tren arsitektur, maka pengembang properti lebih mudah can  terarah dalam
menjual produknya. Asal ikut apa kata tren, maka propertinya pasti laku. Begitu  pula dengan media arsitektur. Dengan membahas tren arsitektur, maka medianya akan laku karena orang  ingin tahu, seperti apa tren arsitektur itu, terlepas apakah makna yang disampaikan tentang tren itu  benar atau keliru.

Misalnya, tren arsitektur minimalis yang masih hangat terdengar.  Betulkah properti yang dijual dengan sebutan minimalis itu benar-benar minimalis? Ternyata lebih  banyak yang keliru, walaupun ada juga pengembang properti yang memberikan pemahaman tentang  minimalis dengan benar. Apa saja dapat dengan mudah disebut minimalis agar laku, walaupun sebetulnya  sama sekali tidak minimalis. Anehnya lagi, ada masanya masyarakat memang bangga can senang membeli  properti yang sesuai dengan dengung tren arsitektur minimalis agar tidak dianggap ketinggalan  zaman.

Jika tadi sudah dijelaskan bahwa tren itu sifatnya sementara, singkat, sesaat,  sebentar saja, sebentar lagi ada ratusan ribu atau mungkin jutaan pemilik bangunan yang akan  ketinggalan zaman. Padahal tujuan awal membelinya justru karena tidak mau ketinggalan zaman. Lalu,  apakah bangunannya akan dirubuhkan saja atau dijual lagi? Wah, kalau dirubuhkan pasti tidak mungkin.  Selain masih baru, ini bangunan lho, bukan pakaian yang bisa dengan mudah disumbangkan. Dijual pun  barangkali kurang laku karena tide sesuai lagi dengan tren terbaru. Nah, mulai jelas, bukan, bahwa  arsitektur dan tren itu sesungguhnya tidak dapat disandingkan?

Dari sana akan ada  'korban', dan yang menjadi korban bukan hanya pemilik properti, tetapi juga arsitektur itu sendiri.  Ketika tidak sesuai dengan apa kata tren terbaru, seolah-olah arsitekturjenis itu sudah kurang bagus  lagi. Minimalis akan --atau malah sudah dianggap jelek, usang, ketinggalan zaman. Padahal makna  minimalis pun belum dipahami dengan benar oleh masyarakat. Jadi, apakah arsitektur minimalis itu ada  waktunya menjadi jelek? Sebetulnya tidak. 'Jelek' itu ada, hanya dalam persepsi masyarakat yang  keliru akibat menjadi korban istilah tren arsitektur.

Arsitektur minimalis sebenarnya  merupakan salah satu arus besar dalam sejarah arsitektur yang sudah ada sejak awal tahun 1900-an,  bukan hasil rekayasa para pengembang properti yang sifatnya sementara. Jadi, orang yang membeli  bangunan yang betul-betul minimalis karena betul-betul menyukainya atau sesuai dengan karakter dan  gaya hidupnya, tak usah khawatir dan tidak perlu mendengar apa kata "tren arsitektur"'.
Mulai sekarang kata "tren" dan "arsitektur" bila disatukan harus diberi tanda kutip, supaya  tidak rancu dan menyesatkan. Karena setahu saya, tren dan arsitektur tidak pernah menikah, selama  ini cuma dijodohkan saja, dan sebetulnya sama sekali tidak berjodoh karena berbeda kodrat.
Apa "tren arsitektur 2010" itu? Tidak terlalu penting lagi, bukan? Namun masih ada hal  yang cukup penting untuk direnungkan bersama. "Tren arsitektur" sebaiknya tidak lagi dijadikan  patokan. Yang jauh lebih penting adalah pencarian pemahaman yang lebih banyak dan lebih dalam  tentang arsitektur sebagai langkah yang tepat bagi seluruh masyarakat, bukan hanya bagi para  arsitek. Peran media arsitektur menjadi semakin penting untuk memberikan pemahaman yang lebih  banyak, lebih mendalam, dan tentunya lebih benar, tentang arsitektur yang sebetulnya memiliki  cakupan sangat luas.

Dalam konteks arsitektur rumah tinggal, menerjemahkan  karakteristik clan keunikan masing-masing pemilik rumah terhadap arsitektur rumahnya merupakan  pilihan yang lebih tepat ketimbang sekadar mengikuti tren. Kebhinekaan karakteristik masyarakat  Indonesia akan memperluas pilihan karakter arsitektur rumah tinggal. Kesempatan untuk menjadi diri  sendiri melalui bentukan rumah masingmasing akan mendorong berkembangnya eksplorasi kekayaan  arsitektur tanpa dibatasi oleh "tren arsitektur".

Kondisi lingkungan hidup global  yang saat ini semakin rusak juga tentunya perlu disikapi. Hemat energi, ramah lingkungan, clan  berkelanjutan, selayaknya menjadi panduan sejak awal merencanakan desain rumah tinggal. Semakin lama  hal-hal tersebut sebaiknya tidak akan lagi menjadi istimewa untuk dibicarakan, tapi menjadi syarat  mendasar yang seharusnya memang ada, seperti halnya pencahayaan dan ventilasi alami. Semakin murah  aplikasinya, maka akan semakin berkelanjutan dan lebih besar dampaknya terhadap bumi ini.
Dengan biaya yang murah, akan semakin banyak orang yang mampu mengaplikasikan arsitektur  berkelanjutan. Secara otomatis, hal itu mempercepat proses penyembuhan bumi yang "sedang sakit" ini.  Semakin murah biaya untuk membangun, semakin banyak uang yang bisa disisihkan untuk perbaikan  lingkungan lain yang lebih besar atau untuk kepentingan kemanusiaan lainnya.

Walaupun  sebetulnya mampu, tidak ada salahnya untuk berhernat clan mengurangi sedikit saja kemewahan nilai  rumah tinggal. Seandainya saja setiap rumah (mewah) dapat mengurangi dan menyisihkan 10 persen-25  persen dari nilai rumahnya bagi kepentingan lingkungan atau masyarakat yang kurang mampu, tentunya  lingkungan hidup sehari-hari akan menjadi semakin indah clan nilainya menjadi jauh lebih besar  daripada kemewahan yang didapatkan tanpa menyisihkan sebagian biayanya. Bukankah kota tempat kita  hidup akan semakin indah dlan menyenangkan untuk dihidupi bila kerusakan-kerusakan lingkungan yang  telah ada dapat diperbaiki sedikit demi sedikit?

Masih ada lagi harta karun terpendam  yang dapat menjadi pilihan bagi kemajuan arsitektur di Indonesia. Mungkin tidak ada yang menyangkal  bahwa Indonesia adalah negara yang sangat kaya yang dikelola dengan salah, sehingga rakyatnya  menjadi miskin. Ini termasuk miskinnya penghargaan masyarakat terhadap kekayaan potensi nilai  lokalitas arsitektur tradisional.

Seandainya nilai-nilai dalam arsitektur tradisional  Indonesia yang jumlahnya begitu banyak --yang mungkin paling banyak di dunia-- menjadi sumber  inspirasi bagi arsitektur masa kini! F. Silaban, salah seorang arsitek besar pada era Soekarno,  pernah bilang bahwa pada arsitektur tradisional, bukan bentuknya yang diambil, tetapi pelajari  jiwanya. Barangkali memang itulah sikap yang tepat untuk mengembangkannya, yaitu dengan melakukan  adaptasi, bukan duplikasi atau replikasi.

Ciri-ciri fisik, makna filosofis, adaptasi  terhadap iklim, material lokal, potensi alam, dan ornamen-ornamen tradisional, merupakan contoh  serangkaian makna lokalitas yang masing-masing kekayaannya dapat menjadi sumber eksplorasi.  Arsitektur bukanlah soal bentuk fisik semata. Bila kita kembali menggunakan mode pakaian sebagai  contoh, maka proses adaptasi terhadap batik sudah sangat berhasil. Bahan batik yang tradisional  dapat diaplikasikan ke dalam berbagai karya pakaian dengan mode terbaru yang begitu indah. Pada saat  ini, batik sangat dicintai oleh berbagai kalangan masyarakat. Padahal keindahan dan kekayaan batik  sudah ada sejak dulu.

Walaupun tidak sama sepenuhnya dengan arsitektur, namun  kira-kira seperti itulah seharusnya adaptasi nilainilai lokal terhadap arsitektur masa kini. Tidak  harus terlihat tradisional secara fisik, namun mengandung maknamakna lokal yang dapat ditelusuri  asal muasalnya. Eksplorasi terhadap kekayaan nilai lokalitas Indonesia ke dalam desain arsitektur  masa kini, saya yakin akan dapat menghasilkan karyakarya arsitektur tingkat dunia.

Yu  Sing, seorang arsitek dari Genesis (architecture, interior, lanscape). Board & Volunteer untuk  Habitat for Humanity Bandung

(Sumber: Majalah IDEA No 72/VI/2010) & Kompas 11  Februari 2010

 
 
Halaman ini dibaca sebanyak : 48 kali