Image
oleh DISKOMINFO - INFORMATIKA

Hubungan Usus, Otak, Sel Lemak dengan Obesitas

2017-12-21 10:00:28   |   Kategori umum  |   Dibaca 14570 kali

Obesitas merupakan suatu kondisi kelebihan berat badan, di mana tubuh meng­alami penumpukan jaringan lemak. Prevalensi obesitas dalam dekade ini terus me­ningkat di belahan dunia, baik di negara maju maupun negara sedang berkembang. Insidensi obesi­tas pada orang dewasa tidak terlepas pada saat bayi dan anak-anak, yang berkaitan erat pada sistem biologi, lingkungan, dan pe­ngaruh sosial.

 

Sistem informasi, baik melalui televisi dan radio, media sosial, surat kabar maupun majalah sangat ber­peran dalam menyampaikan hal-hal apa saja yang ber­dampak baik dan buruknya kegemukan terhadap kese­hat­an tubuh. Komunikasi dalam pe­nyampaian informasi yang baik mem­berikan akses ter­hadap meta­bo­lis­me tubuh yang sehat.

 

Proses dalam mengkon­sumsi ma­kanan didahului de­ngan selera ma­kan (appetite) yang baik. Appetite sering menjadi pradigma seperti pi­sau bermata dua, “apakah appetite yang menggendali­kan kita atau kita yang mampu mengontrol selera ma­kan". Satu hal yang pasti sinyal sis­tem imun-neuroendokrin yang mem­pengaruhi appetite dan meta­bolisme. Sinyal sis­tem ini kian berkembang dan menjadi jelas tehadap epide­miologi kesehatan terhadap obesitas.

 

Membicarakan tentang obesitas tidak terlepas dari kelebihan kalori, dari hari sampai bertahun-tahun, tan­pa olahraga atau malas ber­akti­vitas, secara bermakna akan menambah be­rat badan. Sinyal penyampaian ra­sa lapar dan kenyang, keseim­bangan dalam penggunanan energi, secara konsekuensi memberikan gambaran ten­tang obesitas.

 

Sistem Pengontrolan Appetite

Sistem kontrol selera ma­kan meli­bat­kan empat bagian antara lain:

1. Sistem saraf autonomik dengan korealasi otak, usus dan sel lemak

2. Hormon metabolik

3. Neuropeptida

4. Sistem imun-molekul yaitu sitokin, dihasilkan sel lemak (adiposit)

 

Sistem ini akan bekerja­sama dan berkomunikasi satu sama lain dalam mengenda­likan berat badan. Sinyal ber­asal dari lambung dan usus, hati dan pankreas, sel lemak dan sistem en­­dokrin, otak dan sistem saraf auto­no­­mik, akan bekerja harmonis se­per­ti orkestra sehingga lagu atau tarian molekul dari jaringan dan organ mengontrol baik selera makan, me­nentukan apakah berat badan ber­tam­bah atau berkurang.

 

Sistem saraf, sistem en­dokrin dan sistem imun se­cara dinamis akan ber­inter­aksi pada appetite, diet ma­kanan dan metabolisme dari maka­nan itu sen­diri. Inter­ak­si molekul di intra­sellular bersifat difus ke seluruh tu­­buh, melibatkan sistem pen­cernaan, otak dan sel lemak.

 

Apakah obat berperan da­lam me­nurunkan berat ba­dan?

Untuk lebih baik atau bu­ruk, se­cara biologi tubuh ma­nusia mem­punyai sistem pengaturan yang kom­pleks dan terikat satu sama lain, ke­ter­batasan di daerah lim­bik sebagai regulator appetite. Memanipulasi salah satu komponen memberikan se­di­kit efek, akan terjadi sinyal regu­lasi umpan-balik, con­tohnya obat pe­nekan selera makan akan mem­be­ri­kan rebound hiperfagia dan me­nam­bah berat badan saat obat dihentikan.

 

Rekombinan sel lemak se­bagai horman penunda lapar (leptin) awal penelitian ter­lihat bagus menurunkan be­rat badan, di perlihatkan pada he­wan percobaan. Penelitian tentang obat penurunan berat badan (appetite) sering men­dapat hambatan ka­rena hormonal dan neurotransmitter tidak mampu diprediksi ka­rena mem­punyai mekanisme regulasi um­pan balik yang dapat menambah be­rat ba­dan. Penelitian tentang endo­can­­nabinoids, di mana re­sep­tor di otak menekan rasa la­par. Peneliti oleh Garrison menggunakan adap­to­gen (herbal) dalam menurukan berat badan sebagai isu terapi alternatif.

 

Peran usus-otak: lebih cer­das-lebih langsing

Lambung akan menge­luarkan hor­mon yang mere­gulasi rasa lapar dan ke­nyang. Susunan saraf pusat se­lan­jutnya mempersiapkan lambung menerima makan­an. Saat fase cephalic, proses pencernaan dimulai dan tim­­bul absorpsi. Hormon gherlin (hor­mon lapar) berperan me­ning­katkan selera makan, di samping itu lam­bung juga mengeluarkan hormon PYY (hormon kenyang), kedua hor­mon ini berkoordinasi seimbang. Bila salah satu ter­ganggu dikare­na­kan diet, stress, akan menimbulkan mis-komunikasi di otak se­hingga terjadi sindroma ta­ngan-mulut.

 

Usus juga mengadakan komuni­kasi pada otak "ma­kan lebih, makan se­dikit, ca­rilah makanan". Saraf sim­pati ikut berperan terutama saat stress, akan berperan meningkatkan pe­nyimpanan lemak, metabolisme menu­run (oksidasi asam lemak), me­ningkatkan glukosa, cortisol dan adre­nalin. Di sisi lain, saraf para­sim­patis ter­stimulasi sebagai respon re­lak­sasi, memfasilitsai pen­cernaan de­ngan mening­kat­kan peristaltik usus, mening­katkan oksidasi asam le­mak dan meningkatkan sensiti­vi­tas insulin. Konteks ini, da­lam situasi relaks dan aman, tubuh didesign un­tuk men­cernakan dan memproses ma­kanan serta meningkatkan meta­bo­lisme. Dalam keadaan stress dan ketakutan meng­hambat pencernaan dan me­tabolisme.

 

Peran Hormon Insulin

Insulin merupakan master hor­mon metabolisme, saat mengkon­sum­si makanan, khususnya karbo­hid­rat, insulin berperan aktif sabagai anabolisme. Masalah muncul di saat terus makan dan ma­kan makanan ting­gi karbo­hidrat, konsumsi maka­nan tinggi nilai glikemik misal­nya gula, meningkatkan pro­duksi insulin sehingga dapat meningkatkan berat badan atau obesitas. Obesitas pada ak­hirnya menyebabkan sin­droma meta­bolik yang me­yebabkan resis­tensi insulin, sindroma yang menga­rah ke arah pre-diabetes.

 

Bahaya lemak perut (bel­ly-fat)

Terpapar secara kontinu terhadap makanan yang ting­gi karbohidrat, kentang, gula dan pola makan tidak baik misalnya porsi besar, me­ningkatkan produksi insulin secara intensif dan menim­bulkan jaringan lemak visceral (belly fat). Semakin gemuk semakin ingin makan dan hormon ghrelin berperan dominan, meningkatkan selera makan, terus mencari makanan untuk dikonsumsi, "Appetite, generally Wolf" (Williams Shakespeare).

 

Pola makan sehat ditinjau dari kom­posisi, frekuensi dan jadwal makan

Komposisi makanan se­perti diet rendah lemak mem­perlambat meta­bolisme dan makanan rendah in­deks gli­kemik, makin kecil nilai­nya se­makin baik untuk tubuh. Selain kom­posisi, kapan kita makan dan sese­ring apa kita makan, cukup krusial dalam mengontrol pertam­bahan berat badan. Jadwal makan teratur dan tidak nge­mil me­ngurangi asupan kalori, me­ningkatkan oksidasi asam lemak.

 

Thermogenesis meru­pa­kan proses fisiologis, ener­gi di­peroleh saat kita meng­kon­sumsi makanan, saat pola ma­kan sehat tidak diperhati­kan, tera­baikan, akan meng­hasilkan energi yang tidak efi­siensi, berat badan naik dan obesitas, akan terganggu kese­hatan seiring sindroma metabolik. Pri­bahasa lama "makan pagi bagai­kan raja, makan siang seperti pange­ran, makan malam seperti pengemis".

 

Apakah pribahasa ini be­nar atau tidak cocok diterap­kan, tergantung dari masing masing individual me­nilai­nya. Untuk itu diperlukan kesa­tuan yang tidak terpisah­kan yakni nut­risi (nilai in­deks glikemik) maka­nan, diet makanan (karbohidrat, protein, lemak dan serat), ting­kah laku sehari-hari (aktivitas dan berolah­raga) dan tingkat emosional atau stres.

 

Oleh: dr.Husin Rotan, MKT.

 

Sumber : http://harian.analisadaily.com/kesehatan/news/hubungan-usus-otak-sel-lemak-dengan-obesitas/471242/2017/12/18