oleh Admin

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 H Tahun 2017 Nabi Muhammad Pemimpin Agung Penyempurna Akhlaq

2017-12-06 08:17:28   |   Kategori umum  |   Dibaca 48 kali

Nabi besar Muhammad SAW dikenal sebagai sosok politikus handal, berjiwa jujur, egaliter, penuh toleransi, humanis dan nondiskriminasi. Kesempurnaan kepemimpinannya mampu menjawab berbagai masalah dan tantangan dalam masyarakat sepanjang jaman. Semua karakter luar biasa tersebut, disampaikan kembali oleh Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa, pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 H tahun 2017.

 

                “Nabi Muhammad SAW dalam teologi Islam, adalah sosok pemimpin agung penyempurna akhlaq nabi-nabi sebelumnya. Dalam sosial politik, sosoknya dikenal jujur, egaliter, penuh toleransi, humanis dan nondiskriminasi. Kepemimpinannya mampu menjawab tantangan zaman,” ucap bupati, Selasa (5/12) pagi.

 

                Acara yang digelar di Pendopo Graha Majatama dan dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Mojokerto, Herry Soewito serta Forkopimda, bupati juga mengatakan jika esensi dari Maulid Nabi adalah sebagai bentuk transformasi diri.

 

                “Esensi Maulid Nabi Muhammad SAW adalah sebagai transformasi diri, terbentuknya keshalehan umat Islam, yakni semangat baru membangun nilai-nilai luhur peradaban Islam menuju masyarakat madani penuh toleransi, pluralisme dan anti kekerasan,” tambahnya.

 

                KH. Husein Ilyas (Mbah Yai Khusen Ilyas), pengasuh Pondok Pesantren Salafiyyah Al-Misbar, dalam peringatan ini memberikan Tausiyah Hikmah Maulid Nabi yang mengupas seputar sifat mulia yakni istiqomah. Istiqomah sendiri dapat diartikan menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan atau konsisten.

 

                “Sebaik-baiknya perilaku walaupun sedikit, adalah istiqomah (di jalan agama yang benar). Istiqomah bisa diterapkan juga dalam hal kebaikan lainnya seperti menolong sesama. Agar di kemudian hari tidak sampai ada penyesalan karena tidak total dalam berbuat kebaikan dan timbul kalimat penyesalan ‘kenapa tidak sepenuhnya?’, ‘kenapa tidak seluruhnya?’ dan ‘kenapa tidak semestinya?’ di dalam hati,” tuturnya ( Diskominfo + Bagian Humas dan Protokol ).